Baca : Mazmur 103 : 14 - 16
Coba renungkan, seandainya anda tidak pernah ada di dunia ini atau dalam kenyataan kehidupan ini. Itu berarti tidak pernah ada kisah hidup yang sekarang anda miliki. Itu berarti tidak pernah ada apa-apa yang bertalian dengan anda. Apakah dunia dengan segala hukumnya akan berbeda seandainya anda tidak ada? Tentu tidak. Dunia tetap seperti hari ini seandainya kita tidak ada. Ini berarti kita bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa terhadap dunia dan segala hukum alamnya. Tetapi kalau anda ada, tentu ada suatu maksud yang besar yang Tuhan rancang bagi manusia di sekitar anda. Sebab haruslah berbeda keadaannya kalau anda hadir di dunia ini dibandingkan dengan ketidakhadiran anda. Pertanyaan kemudian yang harus dimunculkan adalah, apa artinya diri anda bagi orang lain?
Coba renungkan, seandainya anda tidak pernah ada di dunia ini atau dalam kenyataan kehidupan ini. Itu berarti tidak pernah ada kisah hidup yang sekarang anda miliki. Itu berarti tidak pernah ada apa-apa yang bertalian dengan anda. Apakah dunia dengan segala hukumnya akan berbeda seandainya anda tidak ada? Tentu tidak. Dunia tetap seperti hari ini seandainya kita tidak ada. Ini berarti kita bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa terhadap dunia dan segala hukum alamnya. Tetapi kalau anda ada, tentu ada suatu maksud yang besar yang Tuhan rancang bagi manusia di sekitar anda. Sebab haruslah berbeda keadaannya kalau anda hadir di dunia ini dibandingkan dengan ketidakhadiran anda. Pertanyaan kemudian yang harus dimunculkan adalah, apa artinya diri anda bagi orang lain?
Tuhan tidak memaksa kita berbuat sesuatu, sebab itu sangat bertentangan dengan hakikat-Nya. Tetapi IA menghendaki apa yang dirancangNYA dalam hidup kita dapat terwujud. RancanganNYA pasti rancangan yang sempurna bagi kita dan bagi manusia lain. Kalau kita menyadari hal ini dan memiliki hati yang bijaksana, kita akan mulai mempersoalkan apa artinya diri kita bagi sesama.
Memang perenungan sperti ini hanya dilakukan oleh sangat sedikit orang. Kiranya anda salah satunya. Selama ini banyak orang hanya memikirkan dirinya sendiri, perasaanya sendiri dan kepentingan orang-orang yang dikasihinya, terutama yang memiliki hubungan darah dengan dirinya. Di luar keluarganya sendiri, dianggapnya tidak pantas menikmati sebagian dari tetesan keringat, darah dan airmatanya. Bahkan kadang remah-remah roti dari meja makannya dianggap tidak perlu diberikan kepada orang yang membutuhkan makanan guna menyambung nyawanya. Hal ini mirip dengan orang kaya yang dilukiskan dalam Lukas 16.
Renungkan seandainya anda sudah dibaringkan di peti mati. Apa yang telah anda lakukan di singkatnya hidup ini? Semua yang telah di perjuangkan harus dilepaskan. Sempatkah menggunakan apa yang pernah ada di genggaman anda untuk keselamatan jiwa orang lain? Pernahkah anda menggunakan semua yang pernah dipercayakan Tuhan di tangan anda untuk menyukakan hatiNYA? Manusia bukanlah makhluk gratis yang diberi kehidupan hanya untuk dirinya sendiri. Ada seorang Pribadi Agung, yang kepadaNYA kita harus mempertanggung-jawabkan sepenuh perjalanan hidup ini. Kehidupan yang sangat mahal yang tidak terbeli ini diberikan kepada kita hanya untuk kepentingan Sang Pemberi.
Kalau kita boleh ada di bumi ini, tentu ada suatu maksud besar yang Tuhan rancang bagi manusia di sekitar kita melalui diri kita
Sumber : Truth Edisi Desember 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah yg membangun, bukan menjatuhkan. Terimakasih. Tuhan Yesus memberkati.