Plz welcome

Jesus Christ

Kamis, 05 Januari 2012

Di Hadapan Takhta Pengadilan Allah

Baca: Wahyu 20:11-15

Suatu saat, Anda tiba-tiba sedang berdiri, berbaris di sebuah antrian yang sangat panjang, sampai anda tidak bisa melihat ujung belakang dan depannya. Ternyata anda sedang mengantri untuk menghadap tahta pengadilan Allah. Sesuatu yang mengejutkan, karena tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa keadaan seperti itu sungguh-sungguh akan anda alami.

Anda mencoba mencari adakah wajah orang-orang yang anda kenal. Sangat sulit mendapatinya. Wajah-wajah asing yang datang dari berbagai bangsa ada di sekitar anda, semuanya diam seribu bahasa.  Rasa-rasanya mereka memiliki perasaan yang sama yaitu ingin berkomunikasi, tetapi suasana dahsyat menghadap pengadilan Allah tidak memberi kemungkinan  mereka bisa berkomunikasi. Suasana kengerian yang tidak pernah dialami dirasakan setiap orang.
Pada waktu itu anda bisa merasakan keagungan Tuhan yang tiada tara. Keagungan dan kemuliaan yang sangat menakutkan. Kalau bisa lari dari tempat itu, pasti anda sudah terbirit-birit; tetapi anda merasa begitu kecilnya, tak berarti dan bukan siapa-siapa. Mengapa Allah begitu menakutkan!

Ingat, orang yang takut Tuhan di bumi ini tidak takut lagi di kekekalan; tetapi orang yang tidak takut Tuhan di bumi ini akan ketakutan di kekekalan. Jika selama di dunia kita sungguh-sungguh mengagungkan Tuhan, maka bagi kita, keagungan dan kemuliaanNya adalah kebahagiaan yang tiada tara. Jika kita sudah biasa mengakrabi kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita, kita bukan saja mampu berdoa, tetapi juga bercengkerama dan bersahabat denganNya. Kesempatan untuk bertemu denganNya merupakan hal yang sudah kita nanti-nantikan. Sebaliknya, apabila kita tidak menghargai Tuhan secara pantas, maka hari Pengadilan Allah adalah hari yang sangat mengerikan bagi kita.

Sebelum itu terjadi, mari kita tilik keadaan kita hari ini. Apakah anda melecehkan kawan yang berbicara tentang langit dan bumi yang baru? Apakah anda berpikir seakan-akan dunia hari ini adalah dunia satu-satunya yang di miliki manusia, seakan-akan tidak ada kesenangan lain selain dunia hari ini? Apakah anda berusaha untuk meraih sebanyak-banyaknya yang diberikan dunia? Seriuskah anda saat berurusan dengan Tuhan? Apakah anda menyempatkan diri berdoa, atau menganggap banyak hal lain lebih penting? Jangan seperti orang-orang yang berdoa hanya pada waktu di gereja, mau makan, mau tidur atau sedang dalam masalah. Mengerikan atau menyenangkan hari pengadilan Allah itu tergantung hari ini.

 Orang yang takut Tuhan di bumi ini tidak takut lagi di kekekalan; tetapi orang yang tidak takut Tuhan di bumi ini akan ketakutan di kekekalan

Sumber: TRUTH

Rabu, 04 Januari 2012

SEANDAINYA AKU TIDAK ADA

Baca : Mazmur 103 : 14 - 16

Coba renungkan, seandainya anda tidak pernah ada di dunia ini atau dalam kenyataan kehidupan ini. Itu berarti tidak pernah ada kisah hidup yang sekarang anda miliki. Itu berarti tidak pernah ada apa-apa yang bertalian dengan anda. Apakah dunia dengan segala hukumnya akan berbeda seandainya anda tidak ada? Tentu tidak. Dunia tetap seperti hari ini seandainya kita tidak ada. Ini berarti kita bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa terhadap dunia dan segala hukum alamnya. Tetapi kalau anda ada, tentu ada suatu maksud yang besar yang Tuhan rancang bagi manusia di sekitar anda. Sebab haruslah berbeda keadaannya kalau anda hadir di dunia ini dibandingkan dengan ketidakhadiran anda. Pertanyaan kemudian yang harus dimunculkan adalah, apa artinya diri anda bagi orang lain?

Tuhan tidak memaksa kita berbuat sesuatu, sebab itu sangat bertentangan dengan hakikat-Nya. Tetapi IA menghendaki apa yang dirancangNYA dalam hidup kita dapat terwujud. RancanganNYA pasti rancangan yang sempurna bagi kita dan bagi manusia lain. Kalau kita menyadari hal ini dan memiliki hati yang bijaksana, kita akan mulai mempersoalkan apa artinya diri kita bagi sesama.

Memang perenungan sperti ini hanya dilakukan oleh sangat sedikit orang. Kiranya anda salah satunya. Selama ini banyak orang hanya memikirkan dirinya sendiri, perasaanya sendiri dan kepentingan orang-orang yang dikasihinya, terutama yang memiliki hubungan darah dengan dirinya. Di luar keluarganya sendiri, dianggapnya tidak pantas menikmati sebagian dari tetesan keringat, darah dan airmatanya. Bahkan kadang remah-remah roti dari meja makannya dianggap tidak perlu diberikan kepada orang yang membutuhkan makanan guna menyambung nyawanya. Hal ini mirip dengan orang kaya yang dilukiskan dalam Lukas 16.

Renungkan seandainya anda sudah dibaringkan di peti mati. Apa yang telah anda lakukan di singkatnya hidup ini? Semua yang telah di perjuangkan harus dilepaskan. Sempatkah menggunakan apa yang pernah ada di genggaman anda untuk keselamatan jiwa orang lain? Pernahkah anda menggunakan semua yang pernah dipercayakan Tuhan di tangan anda untuk menyukakan hatiNYA? Manusia bukanlah makhluk gratis yang diberi kehidupan hanya untuk dirinya sendiri. Ada seorang Pribadi Agung, yang kepadaNYA kita harus mempertanggung-jawabkan sepenuh perjalanan hidup ini. Kehidupan yang sangat mahal yang tidak terbeli ini diberikan kepada kita hanya untuk kepentingan Sang Pemberi.

Kalau kita boleh ada di bumi ini, tentu ada suatu maksud besar yang Tuhan rancang bagi manusia di sekitar kita melalui diri kita

Sumber : Truth Edisi Desember 2011

Selasa, 03 Januari 2012

Kesaksian Pujian : KAU Tetap Allah

 
Betapa dahsyat Engkau Tuhan
Pencipta segala yang ada
Dulu skarang sampai slamanya
Hanya Engkau Tuhan

Tak terselami pikiranmu
Tak terukur panjang setiaMU
Dulu skarang sampai slamanya
Hanya Engkau Tuhan

Kusembah Engkau Yesus
Hanya Engakau, Allah di Hidupku
Tiada yang lain, hanya Kau
Hanya Engkau Tuhan
Slamanya Kau Tetap Allah
Walau dunia, semua bergoncang
Tak tergoyahkan
Kau tetap... Allah

Senin, 02 Januari 2012

Kesaksian Pujian : Mulia Bagi Allah Bapa

Mujizat Itu Masih Ada

Bacaan Firman Tuhan : Markus 6: 30-44

Mujizat adalah suatu hal yang tidak bisa kita lakukan, namun sangat mudah bagi Allah. Namun seringkali kita menyepelekan sesuatu sehingga kita tidak merasakan mujizat itu. Contoh mengedipkan mata. Mengedipkan mata itu hal yang mudah kita lakuin, ketika kita sehat. Tapi bagi orang yang sedang sakit, hal itu sangat sulit dilakukan, dan merupakan suatu mujizat bila bisa melakukannya.

Lantas, apa di jaman modern sekarang mujizat itu masih ada? Apa yang harus dilakukan untuk dapat mengalami mujizat itu? Dari bacaan firman Tuhan diatas, ada 5 hal yang bisa dan harus dilakukan agar mujizat dapat terjadi dalam hidup kita.

1.   BERDOA DENGAN SUNGGUH2
Dalam ayat yang ke 31-32, Yesus menyuruh murid2 pergi ke tempat sunyi untuk mengasingkan diri & beristirahat. Dalam konteks ini bermakna, beri waktu untuk datang kepada Bapa. Sesibuk apapun kita, selelah apapun, kita harus dapat meluangkan wktu bagi Bapa. Dan jangan pernah menyepelekan doa! Sesederhana apapun doa, bila diucapkan dengan tulus dan dari hati yang terdalam, Bapa di Surga mendengarnya dan menampungnya untuk direalisasikan menurut waktuNYA.

2.  MEMBACA FIRMAN TUHAN
Untuk dapat mengalami mujizat2 (janji2 Allah), kita harus tau apa yang dijanjikan oleh Allah. Dalam ayat yg ke 33-34 dikatakan banyak orang datang kepada Yesus untuk mendengar ajaranNYA. Ini menggambarkan bahwa orang banyak itu haus akan firman Tuhan. Kita pun sebagai anak Tuhan seharusnya haus akan firman Tuhan. Beri waktu, tenaga dan pikiran untuk datang kepada Bapa di Surga. Bacalah Alkitab untuk dapat mengetahui setiap janji yg diucapkan Allah.

3.  Bertindaklah Dengan Iman
Ayat 35-38 adalah percakapan Yesus dengan murid2Nya. Murid2 meminta Yesus untuk menyuruh orang banyak itu pulang tetapi Yesus malah berkata mereka harus memberi orang banyak itu makan! Dalam kasus ini, sangat mustahil untuk dapat memberi makan orang banyak itu, terlebih ktika uang yang mereka miliki terbatas. Namun demikian murid2 melakukan perintah Yesus untuk memberi orang banyak itu makan dengan mencari sesuatu yang dapat di makan hingga akhirnya mereka menemukan 5 roti dan 2 ikan. Sama sperti hidup kita, ketika kita merasa hidup kita stuck, ktika seakan tidak ada jalan terbuka, ktika kita marah dengan keadaan kita, dengan jalan yang Tuhan tunjukkan, yang seakan membuat hidup kita memburuk, marahlah kpd Tuhan, berteriaklah kepada Allah, minta pertolonganNYA! Dan bertindaklah dengan iman!! Walau seakan hal itu mustahil, lakukanlah dengan iman! Sebab bukan kekuatan terendah yang kita andalkan namun kekuatan dari Sang Maha Kuasa yg kita gunakan! Bertindaklah dengan iman!

4.  Kedisiplinan / Hidup Dengan Menguduskan Diri
Dalam ayat 39-42, Yesus menyuruh orang banyak itu duduk berkelompok. Orang banyak itupun duduk berkelompok, lalu Yesus mengambil roti dan ikan itu kemudian mengucap berkat, maka makanlah orang banyak itu sampai kenyang. Sama halnya dengan hidup kita. Kita pun harus hidup dsiplin & menguduskan diri untuk datang kepada Bapa. Apa jadinya bila orang banyak itu tidak menuruti perkataan Yesus? Tentu tidak akan ada mujizat seperti ini tertulis dalam Alkitab. Malah mungkin orang banyak itu akan saling membunuh demi mengisi perut mereka. Sama halnya seperti seorang ibu yang memasak makanan untuk keluarganya, terutama anak2nya. Ketika tangan sang anak kotor sehabis bermain, apa yang dikatakan ibunya? Tentu sang ibu menyuruh anak itu untuk mencuci tangannya yang kotor, jika tangannya bersih maka sang ibu memberi anak itu makan sampai kenyang. Begitu juga dengan hidup kita. Kita harus membersihkan “tangan” kita yang kotor agar berkat Tuhan tidak terhalang sebab “Bukan tanganNya kurang panjang untuk menyelamatkan & tidak kurang tajam pendengaranNya untuk mndengar; tp karena kejahatan kita lah yang jadi pemisah antara kita dengan Allah. Karena dosa kita lah maka Allah menyembunyikan diri terhadap kita, shingga IA tidak mendengar sebab Allah membenci dosa!

5.  Hiduplah Dengan Memberi
Dalam Yoh 6:9 dikatakan 5 roti dan 2 ikan itu didapat dari seorang anak kecil yang rela memberikan miliknya untuk dibagikan. Apa jadinya bila anak kecil itu tidak memberikan miliknya kepada murid2 saat itu? Mungkin tidak akan pernah terjadi mujizat ini. Begitu juga dengan hidup kita. Bila kita hidup dengan memberi maka akan semakin dekat mujizat itu terjadi dalam hidup kita. Memberi tidak selalu konotasinya berupa materi. Memberi bisa berbentuk pikiran, waktu, tenaga, dll yang dapat membantu orang lain terutama membantu pekerjaan Tuhan. Ketika kita memberi dengan tulus, sekecil apapun itu, maka Allah akan membalasnya berlipat kali ganda, sebab Tuhan tidak akan pernah berhutang kepada kita. Amin. Tuhan Yesus memberkati.

Minggu, 01 Januari 2012

Pembaringan Terakhir

Baca : 2 Timotius 4:6-8
Alkitab dalam setahun: Wahyu 20-22

SETIAP kita akan tiba pada pembaringan terakhir. Pembaringan terakhir adalah tempat tubuh kita direbahkan sebelum maut menjemput. Sebenarnya kita tidak pernah tahu di mana dan kapan pembaringan terakhir kita tiba, sebab ada orang yang berbaring pada sore hari, esoknya sudah terbujur kaku tak bernyawa. Ternyata tempat tidur di rumah itulah pembaringan terakhirnya. Tidak sedikit orang yang pembaringan terakhirnya adalah jalan aspal, yaitu saat ia tergeletak di jalan raya karena suatu kecelakaan. Ada pula yang pembaringan terakhirnya adalah kursi pesawat, kursi bus atau kapal saat kecelakaan terjadi.

Pernah seorang teman merasa dadanya sakit sewaktu mengendara mobil. Ia menepi, memarkir mobilnya dan mematikan mesin mobilnya. Seiring dengan berhentinya mesin mobilnya, berhenti pula nafasnya. Ia meninggal terkena serangan jantung. Seorang rekan pelayan Tuhan sesudah turun dari mimbar berdoa untuk persembahan, duduk dan mengatakan dadanya sakit. Pendeta di sebelahnya sempat bercanda, "Baru berdoa untuk kolekte saja, dadanya sakit." Sesaat kemudian ia terkulai dan Tuhan menjemputnya, melalui serangan jantung juga. 

Renungkan dengan serius; kita pasti akan memiliki pembaringan terakhir. Pembaringan terakhir itu tidak bisa kita perkirakan, sebab sangat jarang Tuhan menunjukkan di mana pembaringan terakhir kita itu. Namun patut diingatkan di sini bahwa tempat pembaringan terakhir bukanlah suatu masalah. Juga bukanlah suatu masalah di mana anda akan dikuburkan; bukanlah suatu masalah macam apa peti mati untuk jasad anda nanti. Yang menjadi masalah adalah di mana roh dan jiwa kita berada setelah kita dikubur. Ironis sekali, sebab banyak orang mempersiapkan peti mati dan tanah makam sebelum meninggal, tetapi tidak mempersiapkan kepastian untuk kediaman roh dan jiwa setelah tubuh dikubur dan hancur bersama dengan tanah.

Bukannya menakut-nakuti anda, tetapi jangan-jangan tempat tidur yang anda gunakan untuk tidur malam ini adalah pembaringan terakhir anda. Supaya anda mempersiapkan diri untuk pembaringan roh dan jiwa anda, tuliskanlah di pembaringan saudara: "Inilah pembaringan terakhirku". Ini mengingatkan anda agar lebih berjaga-jaga untuk bertemu dengan Hakim yang Adil, yang menghakimi semua orang.

Pembaringan terakhir tak dapat dihindari; untuk itu kita harus lebih berjaga-jaga.


Disadur dari: TRUTH Edisi Desember 2011